Aib Ajax! Gagal Juara Liga Belanda, Semuanya Sampai Cabut

Prahara tengah terjadi di sekujur tubuh raksasa Belanda, Ajax Amsterdam. Klub yang dulu sangat berjaya itu kini tengah dirundung problem internal. Secara mengejutkan, Kepala Eksekutif atau CEO mereka, Edwin Van der Sar mengundurkan diri dari jabatannya. Padahal tidak ada yang memintanya pergi.

Lagi pula Van der Sar juga sudah mengabdi sejak 2016. Kabar mundurnya Van der Sar menjadi amat menyesakkan. Bukan hanya itu, Ajax juga kabarnya memberhentikan sang pelatih, Johnny Heitinga, yang memang hanya bertugas sampai musim ini selesai.

Sebelumnya, di pertengahan musim Ajax juga sudah memecat Alfred Schreuder, pelatih yang semula niatnya akan melanjutkan tongkat estafet era Erik ten Hag. Cabutnya orang-orang tadi memperlihatkan bahwa Ajax tengah diselimuti masalah besar. Benarkah?

Gagal Juara

Ajax di musim 2022/23 mencatatkan rapor merah. Tim yang langganan juara Liga Belanda itu, musim ini gagal total. Ajax tak bisa mengakhiri musim di peringkat pertama. Alih-alih finis di tempat pertama, Ajax justru berakhir di peringkat ketiga. Sekali lagi, posisi ketiga.

Musim ini, Ajax hanya mengumpulkan 69 poin dari 20 kemenangan, lima kekalahan, dan sembilan hasil imbang. Jumlah poin Ajax bahkan terpaut lumayan jauh dari peringkat kedua, PSV Eindhoven yang mengoleksi 75 poin. Dan tertinggal lebih dari 10 poin dari sang juara, Feyenoord.

Tidak juara saja sudah menjadi aib bagi Ajax. Apalagi dengan hanya finis di posisi ketiga. Peringkat ketiga Eredivisie tidak mendapat jatah ke Liga Champions. Tapi hanya bermain di play-off Liga Eropa. Dengan kata lain, kemungkinan terbaiknya, di musim depan Ajax hanya akan bermain di Liga Eropa.

Ini merupakan penurunan bagi klub sekelas de Godenzonen. Secara mereka sudah 13 musim selalu tampil di Liga Champions. Musim ini adalah untuk pertama kalinya Ajax gagal ke Liga Champions setelah terakhir kali tahun 2009. Waktu itu de Godenzonen finis di posisi ketiga, di bawah AZ Alkmaar dan Twente.

Dimulai Saat Ditinggal Ten Hag

Gagalnya Ajax mendapat tiket juara sekaligus voucher Liga Champions sudah dimulai setelah manajer andalan mereka, Erik ten Hag hengkang ke Manchester United. Diakui atau tidak, setelah Ten Hag tak lagi berada di balik kemudi, Ajax seperti mobil yang disopiri orang teler. Alfred Schreuder yang menggantikan Ten Hag malah memperkeruh keadaan.

Mantan asisten Erik ten Hag itu kembali ke Ajax musim 2022/23. Setelah mengantarkan Club Brugge juara Liga Belgia musim sebelumnya, besar harapan kalau Schreuder bisa melanjutkan kesuksesannya di Ajax. Lagi pula, Schreuder bukan pelatih nirgelar.

Selain pernah menjuarai KNVB Beker dan Liga Belanda di Ajax musim 2018/19, ia juga punya gelar Copa del Rey kala menjadi asisten Ronald Koeman di Barcelona musim 2020/21. Semua itu sudah cukup menjadi portofolio Schreuder. Namun, saat melatih Ajax, ia justru menjadi satu-satunya pelatih dalam sejarah tim yang bermain imbang dalam empat laga Eredivisie beruntun.

Schreuder juga membuat Ajax tak menang dalam lima laga di Eredivisie. Ia pun mulai mendapat tekanan keras ketika Ajax terhuyung-huyung di Liga Champions. Ajax gagal lolos ke fase knock-out setelah hanya finis di posisi ketiga dengan enam poin saja. Mereka menelan empat kekalahan di fase grup Liga Champions.

Schreuder Ditekan, Para Pemain Pilar Lepas

Schreuder mulai dihujani kritik. Mantan playmaker Ajax, Wesley Sneijder yang hadir di sebuah acara di TV Belanda, Veronica Offside seperti dikutip Goal, mempertanyakan kemampuan man-management Schreuder. Sneijder berterus terang bahwa Schreuder tidak bisa mengatur timnya.

Sneijder mengatakan kalau Schreuder telah kehilangan ruang ganti, menyusul hubungannya dengan salah satu pemain, yaitu Daley Blind merenggang. Ia lantas membandingkan Schreuder dengan Ten Hag. Manajer Manchester United itu selalu unggul dalam mendapatkan rasa hormat dari timnya dan memotivasi pemain satu per satu.

Hal itu terpancar di Manchester United. Bagaimana Ten Hag bisa mengatasi Cristiano Ronaldo yang toksik. Ten Hag juga berhasil menggugah semangat Marcus Rashford yang sebelumnya tampil inkonsisten. Mendengar kritik-kritik itu, Schreuder pun gusar. Puncaknya, ia bicara dengan nada tinggi setelah kemenangan penting 7-1 atas Excelsior pada Oktober 2022.

β€œSebenarnya saya tidak bisa membangun tim yang benar-benar baru dalam tiga bulan. Saya akan melakukan yang terbaik, tapi butuh waktu,” kata Schreuder dalam jumpa pers.

Pernyataan itu muncul setelah ia melihat kondisi tim saat pertama kali mengambil kendali. Awal musim, Ajax sudah kehilangan tak sedikit pemain pentingnya. Fondasi yang dibangunnya bersama Ten Hag itu lenyap satu demi satu. Antony dan Lisandro Martinez dibawa Ten Hag ke MU.

Lalu, Ajax juga kehilangan Sebastien Haller yang merapat ke Dortmund. Ryan Gravenberch, Nicolas Tagliafico, Noussair Mazraoui, sampai Andre Onana pergi di musim panas. Benar bahwa Ajax memperoleh setidaknya 216,2 juta euro (Rp3,4 triliun) dari aktivitas transfernya.

Namun, mereka harus mengorbankan kualitas. Pemain seperti Steven Bergwijn, Brian Brobbey, sampai Francisco Conceicao yang direkrut tak bisa berbuat banyak. Nama yang terakhir malah dibekap cedera. Level permainan Ajax pun anjlok.

Belum Selesai, Malah Diganti Heitinga

Ironisnya, Schreuder tak diberikan kesempatan lebih lama lagi. Usai kalah 6-1 atas Napoli di markasnya sendiri dan dibanting Liverpool 3-0 di Liga Champions, pada Januari 2023, Ajax memecat Schreuder. Pemecatan itu lantaran serangkaian hasil buruk, di mana Ajax sebelumnya tak memetik satu pun kemenangan dari tujuh pertandingan.

Manajer Ajax U21, Johnny Heitinga ditunjuk menggantikannya sampai akhir musim. Ajax berada di peringkat lima ketika penunjukkan Heitinga. Ia pun diwajibkan mendongkrak posisi Ajax. Awalnya, Heitinga mampu membalikkan situasi. Setelah tidak menyentuh kemenangan di liga sejak Oktober 2022, pada debutnya, Heitinga membawa Ajax meraih kemenangan atas Excelsior pada 29 Januari 2023.

Heitinga sebenarnya tidak terlalu buruk sebagai pengganti sementara. Di akhir musim, ia mencatatkan 11 kemenangan, tiga kali kalah, dan dua hasil seri di Eredivisie. Jauh lebih baik dari Schreuder yang hanya mengemas sembilan kemenangan, dua kekalahan, dan tujuh kali bermain imbang.

Sayangnya, Heitinga tak bisa memaksimalkan poin di laga penting. Saat punya kesempatan menyalip PSV dan Feyenoord, Ajax justru kalah dari dua tim itu. Heitinga juga hanya bisa membawa timnya bermain imbang menghadapi AZ Alkmaar dan Go Ahead Eagles.

Di laga terakhir Eredivisie, Ajax juga kalah telak atas Twente. De Godenzonen di tangan Heitinga juga gagal melaju ke babak gugur Liga Eropa, setelah di laga play-off kalah dari Union Berlin. Heitinga juga membiarkan trofi KNVB Beker di depan mata jatuh ke pelukan PSV.

Meski secara catatan lebih baik dari Schreuder, Ajax tidak memperpanjang kontrak Heitinga. Pelatih itu akan segera meninggalkan jabatannya sebagai manajer Ajax. Sementara, de Godenzonen akan mencari manajer baru lagi. Kegagalan Ajax itulah yang juga membikin Van der Sar akhirnya mundur. Mantan kiper MU itu mengakui, musim ini sangat sulit dan ia memilih mengambil jarak dan beristirahat.

Sumber: Reuters, Goal, KhelNow, ESPN, BBC, NLTimes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Code Blog by Crimson Themes.