Jejak Berliku Inter di Liga Champions Sejak Treble Winner 2010

Malam yang indah menghinggapi Santiago Bernabeu, 22 Mei 2010. Kota Madrid ketika itu seakan menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi Javier Zanetti dan kawan-kawan yang meraih trofi Si Kuping Besar untuk ketiga kalinya setelah penantian 35 tahun lamanya.

Menjadi ironi, ketika pencapaian yang juga merupakan Treble Winner itu malah tak membuat Nerazzurri bangkit dan mendominasi. Di musim berikutnya yang terjadi justru malah jalan berliku yang sulit dilewati.

Hengkangnya Jose Mourinho

Tak dipungkiri pencapaian Treble Winner Inter itu diraih berkat seorang The Special One, Jose Mourinho. Tak heran sejak ia pergi meninggalkan La Beneamata, performa Inter merosot, meski para pemain pilarnya masih banyak yang bertahan.

Rafael Benitez yang ditunjuk menangani para pemain peninggalan Mourinho tersebut belum mampu membawa Inter ke jalur kesuksesan. Strategi dan pendekatan permainannya pun berbeda dengan Mourinho. Hasilnya, Nerazzurri gagal mempertahankan gelar Scudetto.

Di pentas Eropa pun gagal total. Di Piala Super Eropa mereka kandas oleh Atletico Madrid. Di Liga Champions langkahnya kandas di babak perempat final oleh Schalke 04 asuhan Ralf Rangnick.

Enam Musim Tak Masuk Liga Champions

Nah sejak saat itu, kegagalan demi kegagalan Inter dialamatkan pada sang juru taktik. Presiden Massimo Moratti pun hobi sekali gonta-ganti pelatih guna menemukan sosok seperti Mourinho lagi. Setelah Benitez, ada Leonardo, Gasperini, Ranieri, hingga Stramaccioni.

Diantara nama tersebut, tampaknya tak ada satu pun pelatih yang berjodoh. Inter terpuruk dalam transisi yang berubah-ubah dari para pelatih tersebut. Pemain dan strategi yang diterapkan pun berubah-ubah. Seperti dari Gasperini yang menggunakan tiga bek, kembali lagi menggunakan empat bek di jaman Ranieri.

Lalu apa dampaknya secara hasil? La Beneamata tak mampu menembus lagi Liga Champions. Mereka bahkan selama enam musim lamanya sejak 2012/13 hingga 2017/18, absen dari liga kasta tertinggi Eropa tersebut.

Krisis Keuangan dan Ganti Pemilik

Sudah terpuruk prestasinya pasca Mourinho, Inter juga dilanda krisis. Krisis keuangan yang melanda Inter, memaksa Massimo Moratti berpikir bagaimana cara menyelamatkannya. Nah sejak itu hadirlah pemilik baru dari Indonesia Erick Thohir.

Erick didapuk menggantikan Moratti sebagai presiden Inter Milan. Saat dibeli Erick, valuasi Inter sedang melorot tajam menukik hingga 30 persen. Seperti dilansir majalah bisnis Forbes, selama dipegang Erick ternyata nilai valuasi Inter mampu perlahan naik hingga 16 persen pada tahun 2016. Dan yang tak kalah pentingnya dengan stabilnya keuangan Inter, ia bisa mengundang perusahaan asal China, Suning Group untuk berinvestasi di Inter.

Lalu bagaimana hasilnya di lapangan ketika Erick memimpin? Harap dimaklumi, selama masa Erick memimpin, nasibnya pun hampir sama. Selamat atas krisis, belum tentu selamat dari segi prestasi.

Inter masih belum bisa bangkit dan gagal meraih satu pun gelar. Masuk Liga Champions pun mereka belum mampu. Di jaman Erick malah lebih banyak lagi gonta-ganti pelatih. Dari Mazzarri, Roberto Mancini, Frank De Boer, Pioli, hingga Spalletti.

Spalletti dan Liga Champions

Nah, barulah di jaman Spalletti, Inter kembali diantarkannya kembali masuk ke Liga Champions. Spalletti membawa Nerazzurri finis di peringkat 4 klasemen Serie A musim 2017/18.

Di tangan Spalletti dengan formasi andalannya 4-3-3, mampu meramu kerangka tim dengan baik di setiap sektor. Seperti di belakang ada Skriniar, di tengah ada Brozovic, dan di depan ada Icardi. Kerangka tim itu yang menjadikan Inter kembali perlahan bangkit.

Meski di bawah Spalletti duduk manis di ranking empat klasemen Serie A selama dua musim berturut-turut, namun di pentas Eropa Inter masih tertidur. Di Liga Champions musim 2018/19, Inter hanya sampai babak grup. Kerangka yang dianggap sudah berhasil dibangunnya, ternyata masih mentah di kancah Eropa.

Revolusi Antonio Conte dan Pemilik Tiongkok

Lalu setelah dua musim, pelatih berkepala plontos itu akhirnya diberhentikan. Proyek baru dari pemilik Suning Group menunjuk Antonio Conte sebagai juru taktik Inter yang baru pada musim 2019/20.

Conte benar-benar merevolusi Inter dari gaya bermain serta pemilihan pemain. Conte yang notabene penganut format tiga bek langsung membawa virusnya itu ke dalam skuad.

Tak heran beberapa komposisi pemainnya harus sesuai apa yang akan ia terapkan. Hasilnya mulai menjanjikan, pola itu membawa Inter kembali menduduki peringkat dua Serie A, serta mampu mencapai babak final Europa League.

Bahkan di musim berikutnya dengan berbagai penyempurnaan pola tiga bek, Conte mampu menghentikan dominasi Juventus di Serie A dengan meraih Scudetto di musim 2020/21 setelah melewati penantian 10 tahun lamanya.

Namun sayang seribu sayang, kesuksesan itu tak dibarengi kesuksesan di Liga Champions. Sesangar-sangarnya Inter di tangan Conte, tetap tak mampu melaju jauh. Mereka selalu kandas di fase grup selama dua musim yakni 2019/20 dan 2020/21.

Berkelanjutan Bersama Simone Inzaghi

Kemudian setelah itu muncul kembali krisis keuangan yang dialami pemilik Suning Group. Conte pun memilih hijrah meninggalkan Inter. Lalu di saat krisis itu, manajemen bergerak tepat menunjuk pelatih yang hampir sama strateginya dengan Conte yakni Simone Inzaghi.

Keberlanjutan sistem yang sudah dibangun Conte inilah sebenarnya yang dapat dirasakan Inter hingga sekarang. Selain tak banyak mengubah skema, pemain yang didatangkan pun cenderung pemain yang bisa bermain di pola tiga bek.

Jadi, masalah adaptasi tak terlalu banyak berpengaruh. Segagal-gagalnya Simone Inzaghi, paling tidak ia sudah membawa pulang trofi Super Coppa Italia dan Coppa Italia di musim pertamanya. Meskipun di sisi lain, gelar Scudetto raib dari genggaman.

Tapi apa yang terjadi di Liga Champions? Inter mengalami peningkatan di bawah Inzaghi. Setelah Conte tak bisa membawa Inter lolos dari fase grup, Inzaghi ternyata mampu. Meskipun langkahnya terhenti di 16 besar oleh Liverpool.

Pencapaian Inter di Liga Champions 2022/23

Kehidupan Inter bersama Inzaghi kini masih berlangsung hingga musim ini. Pelatih yang juga mantan striker itu kini bahkan mampu mencatatkan rekornya di Inter. Setelah 13 tahun lamanya Inter kembali bisa melangkah ke babak perempat final Liga Champions.

Bukan hal yang mustahil, meskipun keteteran di Serie A langkah mereka menembus babak semifinal maupun final musim ini terbuka lebar. Melawan Benfica di perempat final harusnya Simone Inzaghi bisa mengatasinya.

Yakinlah musim ini bersama Simone Inzaghi, wahai fans Nerazzurri. Paling tidak, Inter musim ini akan mengulangi masa indahnya mencapai semifinal seperti di tahun 2003 silam. Atau bahkan jika nasib mereka mujur, bisa-bisa pencapaian final di Madrid 2010 itu akan kembali kejadian.

Sumber Referensi :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Code Blog by Crimson Themes.