Ketika Bayern Munchen Paksa Legendanya Pensiun Demi Guardiola

Pada bulan Maret 2023, kabar mengejutkan datang dari Jerman. Bayern Munchen tiba-tiba saja mengumumkan pemecatan Julian Nagelsmann. Ini tentu jadi kabar yang mengejutkan bagi semua kalangan. Apalagi untuk Nagelsmann sendiri, yang menerima kabar itu saat dirinya sedang liburan di Austria.

Suka Pecat Pelatih Secara Kejam

Ini jadi mengejutkan karena tidak ada masalah apapun yang tampak dipermukaan Bayern. Memang sih, die roten saat itu duduk di peringkat kedua Bundesliga dengan hanya selisih satu angka dari Borussia Dortmund. Tapi di Liga Champions, Nagelsmann memegang catatan 100% kemenangan.

Ada beberapa alasan kenapa pelatih muda itu dipecat. Tapi ada satu alasan yang membuat kejadian ini terasa kejam. Dikutip dari media kenamaan Jerman Bild, Bayern takut kalau Tuchel yang saat itu sedang menganggur bergabung dengan klub lain.

Bayern memang sudah mengincar Tuchel sejak 2018, tapi dirinya malah ke PSG. Melihat Tuchel yang menganggur setelah dipecat Chelsea, Bayern pun ingin cepat-cepat membuka ruang. Meskipun itu mengharuskan mereka memecat Nagelsmann dengan alasan apapun.

Ya… Kalau diingat-ingat lagi, FC Hollywood memang suka memecat pelatih seenak jidat. Itu yang terjadi pada Ancelotti di tahun 2017. Tapi kasus Ancelotti lebih berbau pengkhianatan dari para pemainnya sendiri.

Sedangkan kasus yang lebih mirip dengan Nagelsmann ini terjadi di tahun 2013. Saat itu Bayern, dalam tanda kutip, “menyarankan” Jupp Heynckes untuk pensiun agar mereka bisa merekrut Pep Guardiola. Padahal Heynckes adalah pelatih yang sangat legendaris di Bundesliga.

Heynckes si Juruselamat

Tidak ada yang mengenal Bundesliga lebih baik dari Heynckes. Ia telah memainkan 369 laga sebagai pemain, dan 669 laga sebagai pelatih. Ia terlibat dalam pertempuran di Bundesliga lebih banyak daripada siapapun. Bisa dibilang, Heynckes adalah sesepuhnya sepak bola Jerman.

Tapi selama itu karirnya di Bundesliga, periode paling lama ia pernah menukangi Bayern adalah empat tahun. Itu pun di periode pertama kali ia melatih the bavarians pada tahun 1987 sampai 1991.

Heynckes memang lebih dikenal sebagai pelatih yang keras dan berwatak tegas. Heynckes adalah orang yang Beyern panggil kalau pelatih sebelumnya mengacau. Dari empat periodenya bersama die roten, ia lebih sering diandalkan sebagai seseorang yang membereskan masalah.

Itu pernah terjadi di tahun 2009. Saat itu Bayern Munchen gagal menerapkan sepakbola modern bersama Jurgen Klinsmann. Klinsmann membawa Bayern duduk di peringkat ketiga Bundesliga. Dengan sisa lima pertandingan die roten memanggil Heynckes sebagai pelatih sementara menggantikan Klinsmann.

Padahal Heynckes sudah pensiun dua tahun sebelumnya. Tapi ia bisa membawa Bayern meraih empat kemenangan dan hanya sekali imbang. Sayangnya itu hanya membuat Bayern naik ke posisi kedua di bawah Wolfsburg.

Bayern kemudian membutuhkan jasa Heynckess lagi di musim 2011/12. Ia ditugaskan untuk mengembalikan identitas die bayern setelah bencana yang dibuat Van Gaal di musim terakhir pelatih Belanda itu. Heynckes memang tidak membawa trofi di musim 2011/12, tapi mental juara Bayern kembali muncul di bawah kepemimpinannya.

Dua kali kalah di final Liga Champions dalam tiga tahun terakhir, yaitu tahun 2012 dan 2010. Kemudian juga tahta juara Bundesliga yang direbut Borussia Dortmund di tahun 2011 dan 2012, meninggalkan rasa asam pada Bayern.

Musim 2012/13 yang Luar Biasa

Heynckes pun menebusnya dengan memberikan gelar treble winner untuk Bayern. Itu adalah pertama kalinya klub Jerman bisa menjuarai tiga kompetisi bergengsi dalam satu musim penuh. Musim 2012/13 ini pun jadi musim tersukses dalam sejarah Bayern. Hebatnya lagi, catatan die roten dalam menjuarai trofi-trofi itu luar biasa.

Di Bundesliga, mereka hanya pernah sekali kalah empat kali imbang dan hanya 18 kali kebobolan dari 34 pertandingan. Itu membuat mereka berhasil mengumpulkan 91 poin, dan membuat jarak 25 poin dari Borussia Dortmund yang duduk di peringkat kedua. Itu jadi rekor tim dengan poin terbanyak dalam satu musim di Bundesliga saat itu.

Mereka juga mendominasi DFB Pokal. Heynckes berhasil mengalahkan juara bertahan, Dortmund di perempat final dengan skor 1-0. Kemudian meraih kemenangan besar 6-1 lawan Wolfsburg di semifinal. Sampai akhirnya mengalahkan Stuttgart di partai final.

Di Liga Champions, Heynckes kembali membuat Bayern jadi tim yang ditakuti di Eropa. Itu mereka lakukan sejak babak semifinal. Dimana Arjen Robben dan kolega membantai Barcelona dengan agregat 7-0. Robben juga jadi juru selamat di final setelah mencetak gol di menit ke-89 ke gawang Dortmund. Itu jadi trofi Champions kelima mereka. Sekaligus mengakhiri perjalanan mandul di Liga Champions selama 12 tahun.

Selain trofi, Heynckes juga telah mewarisi skuad terbaik. Pemain yang dibeli di awal musim seperti Dante, Javi Martinez, dan Mario Mandzukic langsung bisa jadi andalan. Khususnya dengan kedatangan Mandzukic Bayern bisa menyerang lebih efektif. Ditambah dengan Robben, Ribery, Muller, Schweinsteiger, Pizzaro, dan Gomez, Bayern bisa mencetak gol dari segala sisi.

Ia juga sudah menciptakan sistem yang paten untuk Bayern. Sistem dimana para pemain bermain sebagai sebuah tim, bukan individu. Ia memadukan gaya tiki-taka dan gegenpressing melahirkan gaya bermain miliknya sendiri. Heynckes memainkan lini tengah yang menekan ke depan tidak hanya untuk merebut bola, tapi juga bisa menguasai ruang.

“Dipaksa” Pensiun

Namun, itu jadi musim terakhirnya melatih. Ia mengumumkan untuk pensiun. Mengutip dari The Guardian, ia berkata “Musim ini sangat berat. Saya sama sekali tidak mengambil libur setelah kami kalah di final Champions melawan Chelsea di musim sebelumnya. Saat ini saya berusia 68 tahun dan ada kehidupan di luar pekerjaan. Saya ingin menikmati hidup saya”.

Mungkin pernyataan dari Heynckes itu benar adanya. Tapi pensiunnya Heynckes ini bukannya tanpa kontroversi. Dilansir dari situs resmi Bundesliga, Uli Hoeness selaku presiden Bayern sudah merencanakan untuk mendepak Heynckes sejak pertengahan musim 2012/13. Tepatnya di bulan Desember 2012.

Hoeness bahkan telah melakukan kesepakatan kontrak dengan Pep Guardiola tanpa sepengetahuan Heynckes sebelumnya. Hoeness beralasan harus cepat-cepat bergerak karena tidak ingin Pep akhirnya pergi ke klub lain. Sebab memang saat itu banyak klub yang sudah mengawasinya.

Itu semua Hoenes bicarakan langsung pada Heynckes sebelum natal 2012. Dan tentu saja membuat Heynckes kesal. Hoeness merampas pilihan yang tadinya dimiliki Heynckes. Ini sama saja dengan Hoeness memaksa Heynckes untuk pensiun.

Padahal, bukan hal yang tidak mungkin Heynckes masih ingin melatih lagi. Seperti di tahun 2009, dimana ia sudah memutuskan pensiun tapi kembali dipanggil untuk membenahi Bayern setelah era gagal Jurgen Klinsmann.

Saat itu, Heynckes memang hanya menangani lima pertandingan liga. Tapi itu membuat hasrat untuk melatihnya muncul lagi. Namun justru ketika Heynckes berada di puncak karirnya bersama Bayern Munchen di musim 2012/13, ia tidak punya pilihan selain pensiun.

Uli Hoeness pernah dengan nada yang lebih jujur berkata “Tentu saja Heynckes ingin bertahan satu musim lagi di Bayern. Tapi pada akhirnya kami bersyukur dia tidak terlalu rewel dengan keputusan ini. Kami punya kesempatan untuk mendapatkan Guardiola sekarang dan siapa yang bisa menjamin kami dapat kesempatan ini lagi?”

Pep Tak Sesuai Harapan

Guardiola adalah orang yang menghidupkan kembali Barcelona. Sebelum Pep datang, Barca hanya mempunyai dua gelar Liga Champions. Kemudian Pep menyumbangkan dua lagi ke lemari trofi Barca. Ia menyulap blaugrana jadi salah satu klub terbaik dalam sejarah.

Dengan resume seperti itu, wajar kalau Bayern mengincar Pep. Justru, hanya Guardiola lah yang saat itu pantas untuk melanjutkan kesuksesan Heynckes. Terlebih lagi, mereka punya sistem yang sama. Yaitu mengandalkan passing dan permainan yang cair. Heynckes juga sudah meninggalkan skuad yang kuat di timnya. Jadi, ini harusnya jadi pekerjaan yang mudah untuk Pep.

Tapi anehnya Guardiola tidak bisa menjuarai satupun Liga Champions selama ia di Jerman. Ini seperti ia dikutuk tidak bisa menang Champions lagi setelah hengkang dari Barcelona.

Permainan atraktif Pep tidak cukup untuk membuat mereka juara Liga Champions. Die Bayern malah pernah secara memalukan kalah lawan Real Madrid dengan agregat 5-0 di tahun 2014. Kemudian di tahun 2015, Pep malah kalah lawan Barcelona asuhan Luis Enrique di babak semifinal dengan skor 3-0.

Di akhir musim 2015/16, Pep pun hengkang dari tim Bavaria itu. Ia mendapatkan tawaran yang lebih menarik, yaitu menciptakan tim impiannya sendiri di Manchester City. Meskipun tidak bisa berbicara banyak di Champions, tapi Pep masih bisa mempertahankan dominasi Bayern di Jerman yang dibangun oleh Heynckes. Ia meraih tiga gelar Bundesliga berturut-turut dan dua DFB Pokal.

Heynckes Dipanggil Lagi

Bayern memanggil Carlo Ancelotti sebagai penggantinya. Tapi Bavaria tidak suka perubahan filosofi yang dibawa Don Carlo. Meskipun ia masih bisa mempertahankan gelar Bundesliga di musim 2016/17, Carlo pun dipecat beberapa bulan kemudian.

Pemecatan Carlo di awal musim 2017/18 itu membuat Bayern berada di bawah tekanan. Di Bundesliga, Borussia Dortmund berada di atas die roten dengan selisih lima poin. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama, Bayern kembali berada dalam situasi yang genting.

Presiden Bayern, Uli Hoeness tidak ada pilihan lain selain kembali memanggil juruselamat mereka. Pada bulan Oktober 2017, Jupp Heynckes yang sedang menikmati masa pensiun pun diseret oleh Uli Hoeness ke kursi pelatih Bayern Munchen.

Bayern asuhan Heynckes memang tidak bermain se-atraktif era Pep Guardiola. Tapi mereka tetap efektif. Bayern selalu punya formula untuk menang. Itu dibuktikan dengan kemenangan 6-0 yang luar biasa lawan Borussia Dortmund di liga.

Heynckes akhirnya sukses menyelesaikan tugas dengan membawa Bayern juara Bundesliga di akhir musim. Sekali lagi, Heynckes jadi penyelamat Munchen dan kali ini adalah yang terakhir kalinya.

Hoeness sebenarnya sempat memohon kepada Heynckes untuk bisa bertahan satu musim lagi, namun Heynckes menolak. Waktunya sudah cukup dan ia telah memberikan ucapan selamat tinggal paling indah untuk Bayern Munchen.

Sumber referensi: TheseFootballTimes, DW, Bild, FCBayern, Bundesliga, Bundesliga 2, Guardian, BTL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Code Blog by Crimson Themes.