Raksasa Eropa Bangkit Lagi! Bagaimana AC Milan bisa Lumpuhkan Dominasi Napoli?

Suara gaduh di Stadion Diego Armando Maradona menyambut malam pertandingan leg kedua perempat final Liga Champions antara AC Milan vs Napoli. Gemuruh itu sekan memberikan sambutan atas kebangkitan sepak bola Italia di kancah Eropa. Setelah beberapa tahun sebelumnya sempat redup.

Sayang, para fans tuan rumah tidak bisa bersorak sampai akhir laga. AC Milan berhasil menahan imbang Napoli. Rossoneri pun berhak untuk jadi wakil Italia pertama yang memastikan tempat mereka di semifinal musim ini. Sekaligus ini jadi pertama kalinya il diavolo rosso melaju sampai semifinal sejak tahun 2007.

Penebusan Dosa Giroud

Kemelut asap biru dari tribun penonton tuan rumah membumbung di udara saat kick-off dimulai. Diiringi dengan gemuruh para suporter Napoli yang memberikan dukungan di musim yang penuh kejutan bagi mereka ini.

Ditambah juga dengan motivasi yang kuat berkat ketertinggalan di leg pertama. Energi dan atmosfer itulah yang digunakan Napoli untuk memulai pertandingan dengan menekan. Kvaratskhelia dan Poitr Zielinski secara bergantian melakukan tembakan ke gawang. Namun sayang, Mike Maignan masih terlalu kuat menjaga gawang Milan.

Milan justru yang punya kesempatan emas setelah Rafael Leao dijatuhkan di kotak penalti di menit ke-21. Olivier Giroud maju sebagai eksekutor, tapi sayang Alex Meret mampu menebak arah bola. Untuk pertama kalinya ia tidak bisa menyelesaikan tugas di tendangan penalti di Champions League.

Namun rasa penyesalan Giroud tidak akan berlangsung lama. Penebusan dosanya terjadi di menit ke-43, berawal dari pergerakan Rafael Leao. Pemain asal Portugal itu secara tidak egois memberikan bola ke Giroud yang tidak mungkin untuk ia sia-siakan.

Victor Oshimen sempat membuat Napoli bisa menyamai kedudukan. Tapi usahanya dianulir oleh VAR yang melihat adanya pelanggaran handball. Napoli pun harus puas mengakhiri babak pertama dengan ketertinggalan 1-0.

Masuk ke babak kedua, Napoli kembali punya kesempatan untuk menyamai kedudukan. Setelah tak bisa menembus barisan pertahanan Milan yang disiplin, Napoli akhirnya mendapatkan hadiah penalti di menit ke-82. Tapi Mike Maignan hadir jadi juruselamat Milan malam itu.

Penampilan Maignan malam itu memang membuat Napoli frustasi. Dan ketika pasukan Spaletti akhirnya bisa membalas lewat gol dari Victor Oshimen di injury time, kemenangan agregat Milan sudah tidak bisa dihindari. Tiket semifinal pun jadi milik rossoneri.

Penurunan Performa di Saat yang Tidak Tepat

Sulit memang untuk mencapai kesempurnaan dalam sepak bola. Setelah tampil sangat bagus sepanjang musim, Napoli mengalami penurunan performa di beberapa pekan terakhir. Setidaknya I Partenopei sudah hampir bisa dipastikan mendapatkan scudetto pertama sejak 33 tahun. Di Serie A mereka memimpin dengan selisih 14 poin di delapan pertandingan tersisa.

Para pendukung Napoli bisa saja puas dengan prestasi itu. Tapi kalau melihat bagaimana anak asuh Spaletti bermain sepanjang musim ini, seharusnya mereka bisa dengan mudah melaju ke final. Sayangnya penurunan performa harus terjadi di saat yang tidak tepat.

Sebagai tim yang fasih dalam menyerang, pundi-pundi gol Napoli mengering di beberapa pekan terakhir. Dalam empat pertandingan terakhir, Napoli gagal mencetak gol di tiga pertandingan. Dua diantaranya adalah ketika menghadapi AC Milan.

Penurunan kesuburan Napoli dalam mencetak gol mungkin ada kaitannya dengan Oshimen. Ada yang berbeda dengan Napoli dan Oshimen setelah penyerang itu pulih dari cedera pangkal pahanya. Jadi, meskipun Napoli bisa mendominasi permainan tapi peluang yang diciptakan tidak jelas ujungnya.

Ini ditambah dengan barisan pertahanan Milan yang sangat disiplin. Duet Fikayo Tomori dan Simon Kjaer memunculkan kembali aroma Maldini dan Nesta yuang sempat ditakuti seantero Eropa. Dua bek tengah milan itu bisa dengan nyaman menangani rentetan umpan silang di laga ini.

Dan ketika Milan siap menyerang, mereka punya Rafael Leao yang berbahaya dan Giroud yang berpengalaman. Meskipun Giroud gagal penalti, ia masih bisa tenang mencari ruang di depan gawang. Itu paket sempurna Milan untuk melumpuhkan dominasi Napoli.

Fakta Laga

Terlepas dari itu, ada fakta menarik yang bisa dibanggakan Alex Meret. Ia adalah kiper pertama yang bisa menyelamatkan tendangan penalti dari AC Milan di Liga Champions sejak Jerzy Dudek dari Liverpool menggagalkan penalti Shevchenko di tahun 2005.

Fakta lainnya adalah ini pertama kalinya ada dua hadiah penalti gagal dalam satu laga sejak pertandingan Bayern Munchen vs Atletico di tahun 2016. Ini juga jadi kali pertama Giroud gagal penalti di Champions League.

Sebelum Giroud, pemain AC Milan yang pernah gagal mengeksekusi penalti di Liga Champions adalah Shevchenko di tahun 2006 ketika melawan Bayern Munchen. Giroud juga jadi pemain tertua Milan setelah Maldini yang bisa mencetak gol di babak gugur.

Tapi fakta yang lebih menarik daripada itu semua adalah bagaimana Milan bisa mencapai semifinal pertama mereka sejak tahun 2007. Dan dengan ini, rossoneri bergabung dengan Juventus sebagai tim Italia yang paling sering masuk empat besar Champions League

Memori Indah 2007

Sebelumnya, tidak ada yang menyangka AC Milan akan melaju sejauh ini. AC Milan berada di urutan keempat Serie A, dan hanya memenangkan satu dari enam pertandingan liga terakhirnya.

Bahkan penggemar paling setia rossoneri akan ragu untuk menyebut timnya adalah tim terbaik di Eropa saat ini. Tapi di bawah asuhan Stefano Pioli Milan menghadirkan tantangan untuk bertahan dan menyerap tekanan lawan.

Bak tim Italia sejati, mereka ulung dalam bertahan dan gemar mengoleksi clean sheet. Sebelum gol Oshimen di laga ini, terakhir kali gawang Milan kebobolan di Liga Champions adalah saat kalah 2-0 lawan Chelsea pada bulan Oktober lalu.

Kini rossoneri bisa melaju ke semifinal Liga Champions. Ini adalah semifinal pertama mereka sejak tahun 2007. Dan untuk para football lovers yang masih ingat, kalian tahu AC Milan punya memori indah di Liga Champions 2007.

Saat itu Milan masih jadi raksasa Eropa. Diperkuat pemain bintang seperti Maldini, Nesta, Seedorf, Gattuso, Pirlo, Kaka, Inzaghi, dan lainnya. Mereka menyusuri Champions League musim itu dengan menghabisi para raksasa Eropa seperti Bayern Munchen dan Manchester United. Sampai akhirnya mengalahkan Liverpool di partai final. Sekaligus membayar tuntas dendam di Istanbul dua tahun sebelumnya.

Mengingat saat ini Milan berada di sisi bagan yang lebih mudah, mungkinkah rossoneri kembali mengulang memori tahun 2007 itu? Tapi sebelum itu, ada tugas berat menanti. Kemungkinan dengan Inter yang sudah memimpin 2-0 di leg pertama melawan Benfica, akan tersaji Derby Milan di semifinal untuk pertama kalinya sejak 20 tahun.

Sumber referensi: Si, Sporting, Sky, B/R, UEFA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Code Blog by Crimson Themes.