Setelah Hancur Lebur, Apa yang Harus Dilakukan Chelsea Musim Depan?

Musim 2022/23 jadi musim yang harus dilupakan oleh Chelsea. Klub yang bermarkas di Stamford Bridge itu mengakhiri musim dengan cara yang tragis. Selain finis di luar sepuluh besar, Chelsea juga hanya memperoleh 44 poin yang mana itu jadi jumlah poin terendah sepanjang sejarah keikutsertaanya di Liga Inggris.

Kini, menyongsong musim 2023/24, manajemen klub telah menunjuk nakhoda baru, yakni Mauricio Pochettino. Pelatih asal Argentina itu datang di saat keadaan Chelsea berantakan usai kepemimpinan singkat Frank Lampard. Lantas, mulai dari sektor mana dulu yang harus diperbaiki oleh Pochettino?

Memperbaiki Suasana Ruang Ganti 

Musim depan Mauricio Pochettino bakal kembali menginjakan kaki di Stamford Bridge. Namun, bukan sebagai lawan, melainkan sebagai pelatih Chelsea itu sendiri. Performa The Blues musim lalu telah meninggalkan banyak pekerjaan rumah dan itu mesti diselesaikan satu per satu oleh Pochettino.

Salah satu yang harus diperbaiki adalah suasana ruang ganti yang kondisinya sudah tak tertolong lagi. Setelah mengalami musim yang buruk, suasana internal tim pasti terkena dampaknya. Mental pemain hingga cara bagaimana mereka berkomunikasi pasti tak sama dengan musim-musim sebelumnya.

Nah, kini Pochettino harus bekerjasama dengan seluruh elemen yang bekerja di Chelsea untuk meningkatkan kualitas ruang ganti. Sebagai pelatih, Pochettino harus banyak-banyak ngobrol dan memotivasi para pemainnya. Bahkan, jika perlu Chelsea bisa merekrut staf khusus yang mengurusi psikologis para pemainnya. 

Itu pernah dilakukan oleh Manchester United. Setelah mengalami kekalahan memalukan 7-0 atas Liverpool, Erik Ten Hag menganjurkan para pemainnya untuk menghadiri sesi khusus dengan psikolog tim, Rainier Koers guna mengatasi lelah mental. Para punggawa United pun melakukan sesi ngobrol dengan Koers untuk melepaskan beban agar bangkit di pertandingan-pertandingan berikutnya. 

Sesi tersebut terbukti cukup sukses. Meski butuh tiga pertandingan untuk bangkit, United hanya menelan satu kekalahan di sisa pertandingan liga yang ada. Rainier Koers juga kerap terlibat untuk membangkitkan passion dan emosi positif dalam diri pemain United sesaat sebelum menghadapi pertandingan-pertandingan penting.

Pemilihan Kapten

Setelah dirasa kondisi mental dan ruang ganti tim sudah sedikit lebih baik, tindak lanjutnya adalah menjaga situasi itu agar tetap stabil. Poin ini biasanya diserahkan kepada kapten tim atau sosok yang paling didengar oleh para pemain lain. Jadi, pemilihan kapten juga penting untuk mengemban peran tersebut.

Untuk saat ini, Chelsea masih mengamanahkan ban kapten kepada pemain senior, yakni Cesar Azpilicueta. Namun, jika melihat situasi musim lalu, pemain berkebangsaan Spanyol itu dirasa gagal untuk meningkatkan motivasi tim. Ia juga gagal membangkitkan semangat tim saat posisi tertinggal atau membutuhkan gol untuk menang.

Musim lalu menit bermain Azpilicueta tak begitu banyak. Sebagian besar laga yang ia mainkan dimulai dari bangku cadangan. Jika sang pemain absen, maka yang akan menggantikannya sebagai kapten adalah Jorginho. Tapi karena Jorginho hengkang ke Arsenal, maka Thiago Silva mengambil peran itu di paruh kedua musim 2022/23. 

Berusia 38 tahun, Silva bakal jadi pemain paling senior di skuad The Blues musim depan. Meski begitu, perannya cukup vital di lini belakang Chelsea musim lalu. Jadi, dengan jam terbang yang sudah tak diragukan lagi, tak ada salahnya apabila Pochettino menyerahkan ban kapten ke Thiago Silva musim depan. Mengingat sang pemain juga berstatus kapten di Timnas Brazil.

Jangan Asal Beli Pemain, Maksimalkan yang Ada

Setelah urusan ruang ganti aman, Chelsea harus memperbaiki keputusan dalam belanja pemain. Musim depan Todd Boehly dan Mauricio Pochettino harus lebih bijaksana dalam mendatangkan pemain. Kalau perlu, tak usah ada tambahan pemain lagi.

Wajah wajah baru yang kita lihat musim lalu pun belum semuanya dari transfer pemain Chelsea musim lalu. Masih ada pemain serba bisa yakni Christopher Nkunku yang baru akan bergabung musim depan dan beberapa pemain pinjaman termasuk Cesare Casadei yang moncer di Piala Dunia U-20 kemarin.

Pochettino juga harus membangun komposisi lini tengah yang baik di sekitar Enzo Fernandez. Sang pemain tak mampu bekerja sendiri untuk mengkoordinir lini tengah The Blues. Ia membutuhkan gelandang bertahan yang kuat dan rela melakukan pekerjaan kotor untuk merebut bola.

Satu lagi, dengan menurunnya performa Azpilicueta, Pochettino harus memaksimalkan kualitas Reece James di sektor kanan. Jadi, harapan para pemain Chelsea akan tampil lebih baik di tangan Pochettino cukup besar. Apalagi pelatih PSG itu dikenal piawai memompa potensi talenta muda.

Singkirkan Pemain Tak Guna

Pembelian gila-gilaan juga mengakibatkan skuad Chelsea jadi “gemuk”. Hingga saat ini tercatat jumlah pemain di skuad utama Chelsea ada 33 pemain dan semuanya tak berfungsi baik musim lalu. Hal itu berbanding terbalik dengan apa yang dimiliki Manchester City.

Dilansir situs Transfermarkt, jumlah pemain di skuad utama asuhan Pep Guardiola adalah 25 pemain. Itu selisih delapan pemain dengan Chelsea. Tapi, dengan jumlah yang lebih sedikit, City jauh lebih berprestasi ketimbang The Blues. Hal itu disebabkan karena The Sky Blue mengedepankan kualitas ketimbang kuantitas.

Nah, untuk mencapai itu apa yang harus dilakukan Chelsea? Sudah jelas tendang saja pemain-pemain yang tak berkontribusi di musim lalu. Kalau boleh usul sih pemain-pemain macam Pierre-Emerick Aubameyang, Deniz Zakaria, dan Christian Pulisic bisa jadi yang harus dikorbankan. Pochettino juga harus mempertimbangkan untuk meminjamkan atau menjual Marc Cucurella. Jual rugi juga nggak apa-apa deh.

Perbaiki Ketajaman Lini Depan

Selanjutnya soal masalah lini depan. Sudah menjadi rahasia umum kalau Chelsea begitu kesulitan dalam urusan mencetak gol musim lalu. Bukan tanpa peluang, melainkan lini depan Chelsea yang kurang tajam. Mereka selalu gagal mengonversi peluang menjadi sebuah gol.

Meningkatkan kualitas finishing para pemain mereka harus dijadikan prioritas dalam sesi latihan. Mungkin Chelsea bisa merekrut pelatih khusus untuk seorang striker seperti yang dilakukan oleh beberapa tim Liga Inggris lainnya. Main bagus juga percuma jika tak bisa mencetak gol. Karena pada dasarnya yang memenangkan laga itu selisih gol bukan penguasaan bola.

Mendatangkan penyerang baru bisa jadi opsi. Tapi siapa penyerang kelas wahid yang mau bermain untuk tim yang tidak tampil di kompetisi Eropa? Well, jadi opsi paling realistis adalah mendaur ulang pemain-pemain macam Raheem Sterling, Kai Havertz, dan Mykhailo Mudryk. Di sisi lain, kedatangan Nkunku juga diharapkan bisa mempertajam lini depan Chelsea.

Maksimalkan Pramusim

Masa pramusim Chelsea juga bakal jadi lebih krusial dari biasanya. Selain untuk menjaga kondisi jelang musim 2023/24, dalam sesi pramusim Mauricio Pochettino pasti akan menyesuaikan skema permainannya pada pemain Chelsea. Laga-laga uji coba juga akan sangat membantu untuk meningkatkan kekompakan di lapangan.

Pramusim sedikit banyak akan berpengaruh pada jalannya musim berikutnya. Jika latihan dan laga pramusim berjalan sesuai rencana, maka bisa dipastikan musim selanjutnya akan berpihak pada Chelsea. Perlahan namun pasti, musim depan Chelsea diperkirakan akan membaik. 

Well, terlalu berlebihan apabila langsung berbicara soal tsunami trofi. Setidaknya jika semua berjalan dengan baik, The Blues seharusnya bisa finis di urutan empat besar musim depan dan kembali berlaga di Liga Champions.

Sumber: 90min, Goal, Daily Mail, Mirror

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Code Blog by Crimson Themes.